Tapi, mungkin, kita dituntut untuk selalu bertingkah laku baik. Kita dilarang untuk menangis. Kita dipaksa untuk menyampingkan rasa penasaran kita biar nggak berulah. Kita dibanding-bandingkan dengan anak lain. Dan, kita diberi banyak tuntutan untuk jadi ini-untuk jadi itu. Intinya, semua itu mengarahkan kita untuk menjadi sempurna.
Mungkin, setiap kita cerita tentang kabar bahagia, kita berharap mereka merespons dengan senyum. Merespons juga dengan kebahagiaan, karena seharusnya mereka ikut bahagia. Tapi nyatanya, kebahagiaan kita nggak dianggap penting. Mereka malah malas mendengarnya. Atau, mungkin, kita yang seharusnya dapat kasih sayang ketika kecil, dimengerti karena kita belum mengerti dunia ini, butuh perlindung…